Loteng Kekurangan Dua Ribu Guru
Loteng— Pembangunan pendidikan di Lombok Tengah masih terganjal kekurangan tenaga pendidik atau guru di wilayah tersebut. Masalah pendidikan belakangan ini menjai sorotan public dan berbagai pihak di Lombok. Hal ini terkait masih rendahnya Indeks Prestasi Masyrakat (IPM) serta Sumber Daya Masyarakat (SDM) masyarakat Loteng saat ini. Terhadap hal tersebut DPRD Loteng mengaku perihatin terhadap dunia pendidikan Loteng saat ini. Dari data yang di peoleh Dewan, Loteng masih kekurangan sekitar 2 ribu guru.
Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap perkembangan serta kemajuan dunia pendidikan Loteng. Ketua DPRD Loteng, Drs. H. Ahsan Hoesain mengungkapkan selama ini pemerintah baik eksekutif maupun legislative telah berusaha dengan maksimal untuk bagaimana meningkatkan kemajuan dunia pendidikan Loteng. Namun tentunya karena keterbatasan sarana dan prasarana termasuk dana yang dimiliki oleh pemerintah daerah, usaha yang dilakukan selama ini belum membuahkan hasil yang maksimal. “Namun hal tersebut bukan berarti dunia pendidikan kita selama ini jalan ditempat atau tidak ada kemajuan. Kendati hanya sediki demi sedikit, IPM serta SDM masyarakat Loteng terus mengalami peningkatan” katanya.
Sementara terhadap rencana dari pihak eksekutif untuk melakukan perekrutan tenaga honor daerah atau yang dikenal dengan tenaga lepas, diharapkan agar dunia pendidikan menjadi prioritas. Eksekutif harus mengutamakan pengangkaan tenaga guru sebab sampai saat ini masih banyak sekolah yang kekurangan tenaga guru, ungkapnya.[KB]
DIarsipkan di bawah: Pendidikan

Tiang turut prihatin, tiang SD-SMP di loteng, SMA lek Mataram Kuliah IKIP Malang, sekarang Tiang Mengajar di SMAN Plus Matauli Pandan-Sibolga - Sumatera Utara (termasuk sekolah bertaraf international) sudah 12 Tahun. Memang sepanjang pengamatan tiang loteng relatif tertinggal banding lotim atau lobar apalagi mataram. sebenarnya tiang kepingin sekali pibdah tugas ojok loteng. laguk mangkin ndekman araj ijin. mudahan kalo sudah diijinkan tiang akan pindah
Meton Mansur, terus saja berkarya di Sibolga, jangan pulang dulu. Lebih baik merajut karier lebih tinggi lagi, agar ada yang dapat membantu dari jauh. kalau semua pulang berarti kembali ke dalam kurungan yang tak akan memberi peluang untuk maju.
Para perantau lebih leluasa dan lebih besar kesempatannya untuk membantu perkembangan daerah.