Wisma Mandalika Dikebut

Loteng—Pembangunan beberapa infrastruktur sarana dan prasarana pendukung dua mega proyek di Loteng yakni BIL dan pengembangan wisata PT. EMAAR mendapat prioritas Pemkab setempat. Salah satu yang dikebut adalah pembangunan Wisma Pemda yang diberi nama Wisma Putri Mandalika.

Selama ini jika ada tamu Pemkab Loteng biasanya menginap di hotel atau di Mataram padahal sebagai daerah yang calon kota metropolis jika dua mega proyek selesai fasilitas penginapan bagi tamu harus tersedia, itulah sebabnya Pemkab Loteng segera membangun sebuah wisma. “penyediaan sarana dan prasarana penunjang untuk pengembangan pariwisata harus segera diselesaikan, dan wisma ini salah satu yang menjadi prioritas” jelas Kepala Dinas Kimpraswil Loteng, H. Dwi Sugiyanto Rabu (2/7) kemarin.

Kepada wartawan Dwi menjelaskan bahwa pembangunan wisma tersebut akan dimulai dalam minggu ini dengan dana Rp. 11 miliar. Anggaran yang dibutuhkan untuk keseluruhan pembangunan wisma ini Rp. 16 miliar lebih. Sedangkan untuk pengerjaan pembangunannya diserahkan kepada PT. Slipi Raya Utama dari Denpasar Bali. Menurutnya ditargetkan pada Juni 2009 nanti wisma tersebut sudah bisa ditempati walau ditargetkan cepat selesai kualitas tetap dikedepankan. [Lp]

2 Tanggapan

  1. mudahan naitan bagus akan menghasilkan karya yg bagus pula…….asal jgn dikorupsi…..oke sukses selalu

  2. Pembangunan wisma menjadi prioritas? Wisma apalagi ini? Apa iya, dengan menilik perkembangan ke depan, maka pembangunan wisma ini sedemikian urgen? Jangan-jangan inisebuah urgensi yang dibuat-buat?!

    Emaar datang ke Lombok juga untuk membangun hotel,lho! Lho kok untuk mengantisipasi kedatangan Emaar, PEMDA harus ikut-ikutan kebut pembangunan wisma? Bukankah kita sudah punya Tastura yang sudha bisa menawarkan sesuatu yang “lebih”? Artinya di sana calon-calon tamu kita have something to do, something to see”. Trus di Praya, kita mau nawarin apa? Apa yang bisa dilihat tamu kita selepas magrib?

    Kenapa kita tidak biarkan saja Emaar membangun hotel karena memang mereka sudah professional di bidang itu? Kenapa kita harus bertindak sebagai “pesaing” Emaar?

    Kalau mau mempersiapkan iklim yang kondusif untuk perkembangan Loteng di masa mendatang, kenapa kita tidak mulai membangun dari sisi software-nya, yaitu SDM kita, baik dari profesionalisme dan mentalitas masyarakat kita?

    Kenapa kesuksesan pembangunan selalu diukur dari berapa lantai gedung yang mampu dibangun oleh Pemda pada masa kekuasaan Bupati/Walikota/Gubernur A? Bisakah kita membuat indikator lain yang lebih lebih berkualitas?

    Membangun gedung adalah hal mudah. Asalkan ada dana, kita tidak membutuhkan seorang yang mumpuni dalam tata administrasi kepemerintahan kalau outputnya hanya sekedar “mampu mengantisipasi perkembangan masa depan dengan membangun sebuah wisma”. Tapi apa iya, sekarang kita sedang surplus dana, sehingga kita ada duiut kebih untuk bangun wisma?

    Kesimpulannya, untuk memainkan perannya dalam membawa Loteng yang responsif terhadap kemajuan, adalah salah kaprah apabila kita hanya menitikberatkan pembangunan fisik. Justru kita harus mulai dari pembangunan manusianya. Buat apa bangun wisma kalau nantinya hanya akan menjadi beban APBD atau akan menjadi bangunan mangkir yang akan menyia-nyiakan uang negara, sementara pemuda-pemuda kita hanya diterima jadi tenaga cleaning service gara-gara pendidikan yang rendah? Tanggungjawab siapa itu?

Tinggalkan Balasan