Luruskan Sejarah Dan Budaya, Dua Etnis Bentuk Rinjani Agung

Loteng— Dalam rangka menunjang dan mendukung pariwisata dan budaya di Lombok Tengah agar terus maju, dua etnis yang ada di Lombok Tengah yakni etnis Sasak dan etnis Hindu yang diprakarsai oleh H.L.Wiratmaja yang juga merupakan Bupati Loteng membentuk sebuah yayasan yang bernama yayasan Rinjani Agung.

Pembentukan yayasan yang bergerak dalam bidang budaya dan pariwisata tersebut dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2008 lalu bertempat di Gedung PKK Praya. Acara tersebut dihadiri oleh sesepuh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat dari dua etnis tersebut.

Saat membuka acara pembentukan yayasan Rinjani Agung, Wiratmaja mengatakan rasa nasionalisme dan kebangsaan itu jangan hanya dibibir saja tetapi bagaimana diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkannya dengan pembentukan yayasan Rinjani Agung yang terdiri dari etnis Sasak dan etnis Hindu dan tidak menutup kemungkinan dari etnis lainnya akan menjadi asset Lombok Tengah.

Wiratmaja juga menambahkan bahwa antara etnis Sasak dan etnis Hindu tidak bisa dipisahkan karena kedekatan emosional, budaya, kultur, historis bahkan darah. “terbentuknya yayasan ini adalah untuk meluruskan sejarah” tegasnya. Ia juga berharap dengan terbentuknya yayasan tersebut, reformasi yang sudah kebablasan, kemudian nasionalisme yang sudah mengalami kemerosotan bisa bangkit kembali dalam rangka menegakkan budaya dan sejarah yang ada.

Selain itu Wiratmaja berharap dengan telah dibentuknya yayasan Rinjani Agung itu nantinya agar para pengurusnya segera menyusun AD/ART. Menurut rencana pengukuhan pengurus yayasan Rinjani Agung akan dilakukakan di Mantang dan akan dihadiri oleh para tokoh budayawan nasional bahkan dari beberapa Menteri. [Le/Nr]

About these ads

8 Tanggapan

  1. yaaa salah satu antisipasi atas dampak yang nanti akan timbul bila terjadi pelurusan sejarah di Lombok……..
    Semoga ada keberanian untuk membuka sejarah Lombok masa lampau yang mempertemukan antara Sasak dan Bali…… mari kita tunggu pelurusan sejarah ini……..

  2. Saya salah seorang yang nggak paham tentang sejarah kita, sehingga nggak ngerti “bengkoknya” di mana sehingga perlu diluruskan. Semoga dengan pelurusan sejarah tersebut, etnis Sasak dapat mempelajari sejarah yang sudah lurus [benar] yang bersih dari kepentingan-kepentingan golongan [buat unjuk gigi dan mencari legitimasi politis]. Pada banyak kasus di mana sejarah dilahirkan dari konflik dan peperangan, banyak orang secara sinis mengatakan bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang.
    Apakah hal tersebut berlaku dalam sejarah kita dalam kaitannya dengan etnis Bali?

  3. Ha ha ha ha ngoh dan zuhuddin (mertua dan menantu) yang satu ini memang serakah luar biasa, sejak kapan mereka mau ngurusin budaya?! mereka kan hanya ngurusin kuda doang, saya yakin seyakin-yakinnya mereka bikin lembaga tersebut tujuannya bukan seperti apa yg mereka bilang tapi mereka bikin untuk menarik uang proyek dispar, soalnya sekarang lombok sedang banyak proyek dibidang pariwisata. kalau memang tujuannya seperti yg mereka bilang apa harus dengan memberi nama lembaganya “YAYASAN” apa mau mencontoh suharto dengan yayasan supersemarnya ?!

  4. Peleurusan Sejarah atau “Penipuan sejarah”….????
    Rinjani Agung yayasan budaya atau nanti PAMSWAKARSA baru????
    gk pake embel2 yayasan deh… yang NYata aja!!

  5. iya deh lurusin aja yg bener, biar kita tau mana yg disebut bangsawan apa bukan. munurut saya seh BANGSAWAN TULEN= keturunan raja2 lombok(selaparang,pejangik,langko dll)
    BANGSAWAN PENGEBENG= pemberian raja bali alias mantan kaki tangan raja bali( nga enak nyebutnya ) buktiin aja sendiri………

  6. juga harusnya lebih banyak menghasilkan buku ttg sejarah Lombok , shg tahu dan bisa brcermin dg daerah lain. sehebat apa sih nenek moyang kita dulu atau kita hanya menepuk dada sendiri disertai pujian berlebihan, padahal kita tidak tahu sejarah ?!

  7. Saya setuju dengan pendapat Sdr. Dopok karena apa yang menjadi acuan kita selama ini dalam membahas sejarah Sasak sebagian besar pada cerita-cerita lisan. Ada juga dalam bentuk manuskrip tapi itu masih dalam wujudnya sebagai “babad” yang tertulis di atas daun lontar dengan bahasa dan huruf papuq baloq jaman lepang bekace-mate sehingga akses sebagian besar generasi muda (yang berkewajiban mengamalkan nilai-nilai luhur dalam sejarah tersebut) tentunya sangat terbatas.

    Keterbatasan akses seperti itu membuat kita hanya bergantung kepada interpretasi orang-orang tertentu dalam memahami apa yang tertulis dalam kitab dental tersebut.

    Dalam tradisi kita, pembacaan lontar selalu disertai dengan minum tuak atau berem sehingga saya khawatir bahwa imajinasi para interpreter sudah melambung terlalu jauh ketika menerjemahkan karya2 tersebut, sehingga melebihi konteks. Namanya juga orang mabuk!

    Dalam urutan kesahihan sumber sejarah, babad tidak dpt dipercaya 100% karena babad sebenarnya tidak lebih dari sebuah roman dalam karya sastra modern. Untuk mendapatkan gambaran tentang latarbelakang budaya dan situasi kemasyarakatan waktu itu mungkin cukup valid, tapi untuk menggambarkan peristiwa sejarah secara rinci, nanti dulu!

    Dalam merunut sejarah-sejarah kerajaan setelah abad pertengahan di pulau Jawa kita punya Babad Tanah Jawi. Tapi para ahli sejarah tidak dapat bergantung sepenuhnya pada kitab tersebut dalam menguraikan detail sejarah. Babad tersebut hanya digunakan dalam merunut alur peristiwa saja. Demikian juga seharusnya status manuskrip sejarah kita di Lombok. Tapi ketiadaan sumber yang lebih valid membuat kita hanya mengacu pada naskah babad. Dan sialnya, buku-buku yang ditulis dengan mengacu pada naskah-naskah tersebut masih sangat langka. Coba aja check ke perpustakaan SMU di sekitar tempat kita masing2 di pulau Lombok. Apakah semua sekolah mempunyai buku tersebut setidaknya masing-masing 1 exemplar?

    Kelangkaan sumber tersebut membuat kita tidak tahu sejarah. Kita tidak tahu tentang kebangsawanan tokoh-tokoh kita. Apakah dulu papuq baloq tokoh2 kita memang para tokoh panutan atau sekedar pembawa gandek buaq lekoq Datu Pejanggik atau lebih parah lagi merupakan hadiah atas ketundukan dan pengabdiannya kepada raja-raja penjajah dari Bali?

    Dalam konteks pelurusan sejarah yang meng-ayahi lahirnya Rinjani Agung, saya masih bertanya-tanya, pelurusan yang bagaimana dan seperti dimaksud? Tapi seperti yang saya katakan dalam tulisan saya sebelumnya, saya nggak ngerti bengkoknya di mana sehingga mustahil saya akan ada ide seperti apa pelurusannya.

  8. kalau aku sih mari kita buktikan sama-sama hasil dari karya cipta sang penguasa sementara ini. kalau bagus dan menunjang masa depan masyarakat mah, why not? akan tetapi kalo hasilnya diluar dari yang diharapkan masyarakat, ya kita sebagai penerusnya kembali meluruskan apa yang mau di kehendaki supaya apa yang sama-sama kita ciptakan menghasilkan hasil yang optimal.
    menurut pendapat saudara-saudara dengan program tersebut negatif, mari kita cari dari nilai positifnya to. dimana maksud dan tujuannya itu adalah mensejahterakan masyarakat (dan keluarga).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: