Opini & Artikel
DARI ULAMA KE UMARA’, NALURI POLITIK SYAHADAT DIPERTANYAKAN
Politik adalah bagian dari keterampilan berfikir, keterampilan tersebut digunakan untuk menggapai kehendak, terkadang muncul dalam bentuk tertentu.
Oleh : Tuan Guru Bajang Muhammad Zainuddin Atsani *
Tidak jarang mengatas namakan kepentingan sekelompok orang atau aliran tertentu, atau dengan menjual penderitaan publik sebagai pintu masuk atas keinginan politiknya. Saat ini sangat sulit membedakan alasan politik seseorang. Kapan seseorang berbicara atas nama peribadi, kapan pula berbuat untuk kepentingan rakyat. Namun kerap kali saya menangkap kesan, sering orang mengatasnamakan kepentingan rakyat untuk kepentingan pribadi. Akhir-akhir ini banyak orang bersikap seolah-olah berjuang untuk kepentingan orang banyak, namun nyatanya sedang meninggalkan rakyat. Menyelinap dan menyeruak atas rasa simpati yang di berikan umat. Semakin besar simpati yang didapatkan maka semakin besar peluang untuk berjuang dengan mengatasnamakan rakyat.
Kendatipun simpati masyarakat berawal bukan dengan maksud demikian, karena awal pekenalan seseorang dengan orang lain baik secara personal maupun sekelompok orang. Jarang karena kepentingan politik, apa lagi perkenalan untuk meraih kekuasaan. Walaupun kita tidak menampikan niat seseorang berinteraksi dengan orang lain mungkin saja karena kepentingan tersebut. Atau bisa jadi setelah berkenalan dengan banyak orang, niat itu muncul. Terkait dari asal muasal motivasi untuk memegang kekuasaan tersebut diatas saya ingin menyampaikan beberapa hal menyangkut kepentingan seseorang dengan sebuah kekuasaan itu.
Pertama, motivasi berkuasa bukan karena sesuatu hal yang bersifat subjektif, murni karena allah, demi kebenaran. Perjuangan yang semata-mata untuk rakyat banyak. Tapi biasanya motivasi seperti ini sulit muncul dalam diri seseorang karena figure tersebut sangat menghindari penafsiran haus akan kekuasaan, padahal jauh dalam dirinya terdapat potensi yang begitu besar. Dia mampu menakar kapasitas diri, bukan hanya sekedar merasa mampu. Figure seperti ini akan muncul ketika alam yang memaksa, karena tidak menjual kata, saya dipakai si A, jarang menggunakan naluri politik demi kemenangan. Figure seperti ini tidak pandai bersilat lidah dia tak pandai merayu hanya sekedar mendapat dukungan dengan kata-kata apa lagi menggunakan kapasitasnya yang jauh dari naluri politik.
Kalaupun ini harus tampil apa adanya tanpa harus merubah penampilan, sikap, dan ekspresinya kepada siapapun, apalagi harus mengeluarkan rupiah, sebaliknya rakyatpun tidak akan berharap sesuatu darinya. Masyarakat yang memperjuangkannya karena dibalik kejujuran itu ada daya tawar yang tidak terklahkan oleh apapun. Sangat disayangkan figure seperti ini selalu menjadi pahlawan kesiangan, ketika warna masyarakat dalam posisi nadir, terjerembab kekuasaan yang dipegang oleh yang tidak layak memegang kekuasaan.
Kedua, motivasi berkuasa dengan mengatas namakan “sesuatu”. Tipe yang ke 2 ini yang sulit kita bedakan dan dijadikan posisi yang paling aman untuk menyembunyikan keinginan pribadi. Figure yang muncul dengan alasan ini sangat pandai menggunakan momentum. Tidak jarang dia muncul saat suasana sedang gaduh, kemunculannya laksana malikat. Dengan naluri politiknya lah ia bisa memposisikan diri dalam setiap kondisi, karena politik juga menjebaknya untuk pandai memanfaatkan kondisi. Pada saat tidak ada kondisi yang dapat dimanfaatkan maka sering kali dengan sengaja mebuat-buat kondisi yang sengaja dimainkan sebagai kepentingan politiknya. Disinilah kejamnya politik tetapi juga sebagai tolak ukur kelihaian berpolitik.
Figure seperti ini akan berbahaya ketika upayanya selalu terpental dengan lawan-lawan politiknya, terlebih bila naluri polotiknya ini masih pada tahap permulaan, karena tidak segan-segan mengunakan cara yang tidak etis. Berangkat dari hal tersebut diatas terdapat pertanyaan yang mendalam yang hendak saya ungkapkan dalam tulisan ini, mungkinkah ada peluang seseorang ulama, memiliki naluri politik? Saya takut peran ulama yang dijadikan alasan politik. Saya membayangkan betapa sulitnya mendapatkan gelar ulama tetapi begitu cepatnya nama itu tergadaikan, hanya karena naluri yang terselubung ego dan tuntutan rasa haus kekuasaan. Sebagai seseorang yang sayang terhadap ulama kiranya saya lebih sepakat bila nama ulama tidak tercemarkan, bila hendak berpolitik kiranya sadar untuk menanggalkan identitas yang jauh dari legamnya dunia politik.
Namun setelah berhidmad dalam jalur tersebut jadikan ulama sebagai landasan melakukan sesuatu, bila harus hidup dalam dunia politik buktikan betapa jujur dan sederhananya kapasitas sebagai ulama. Benarkah naluri politik itu berdekatan dengan naluri ulama?. Sebagai keluaran seorang ulama, hendak sebagai panutan dalam memainkan peran-peran politisnya. Panutan yang dapat menggambarkan bagai mana berpolitik yang sealiran dengan peran ulama, berpolitiklah sesuai dengan dua kalimat syahadat. Bukan politikus yang bersembunyi dari kata suci itu demi meraih kehendak. Pembaca tentu dapat memahami dari sederet figure yang muncul dipermukaan saat ini. Diantara mereka tentu akan dapat memposisikan dalam motivasi yang mana, apakah termasuk motivasi yang pertama atau yang ke dua.
* cucu Syekh Zainuddin Abdul Majid pendiri organisasi NWDI,NBDI dan NW.

betul bajang sulye, sebagai renungan apakah politik datangnya bersamaan dengan agama di muka bumi. atau gimana ?
Mohon dikoreksi bung.. komentar saya itu bukan utk tulisan yang sekarang ini, itu adalah coment saya dulu sekali sebelum tulisan Tuan Guru Bajang dan Bung Zaenuri.. mohon pengelola Lotengpers untuk menghapusnya.. saya juga bingung, sudah beberapa tulisan ganti tapi comment saya terus ada padahal saya tidak berkomentar.. makasih sekali sebelumnya.. Buat Bung Dopok, utk tulisan TGB saya berkomentar: Tidak pernah ada yang bebas nilai bung, TGB sudah saya anggap bukan tokoh agama tapi beliau adalah orang politik.. jadi tulisannya saya anggap bagian dari campaign beliau dipentas politik dan tulisan politik sama dengan statement, sama2 bermuatan kepentingan.. Tulisan yang bagus, mungkin bisa mempengaruhi massa utk dimobilisasi. Paling tidak ketika Pilgub tahun ini dan Pemilu tahun depan.. Agama adalah tetap agama dan politik adalah ’seni’ bernegara dan berdemokrasi, Tuhan pun tidak akan pernah sepakat dijadikan bahan campaign utk sebuah politik kekuasaan.. Makasih bung, sukses buat bung..
sulye jati, apa anda bingung dengan TGB zainul Majdi dan TGB zainuddin Tsani? dari komentar anda di atas seperti anda salah memahami.
Tapi yang ingin saya komentari ; betulkan ulama tidak boleh terlibat politik? mengapa politik bagi anda hanya orang tertentu saja bukan untuk semua orang termasuk ulama? Anda bicara soal Tuhan yang tidak setuju dijadikan campaign, tapi kenyataannya seruan ceramah agama seorang ulamapun adalah sebuah campaign interpretasi ajaran tuhan. Lalu apakah kekuasaan selalu berkonotasi jelek? bukankah kekuasaan juga dapat memberi mamfaat besar untuk orang banyak jika digunakan dengan baik?
Anda bicara kekuasaan, politik dll seperti suatu hal yang kotor dan najis, tapi politik dan juga kekuasaan hasil dari proses politik adalah suatu yang netral tergantung proses dan mamfaat yang diberikannya.
trim’s bajang sulye, memang kita harus jujur dengan niat, dan jangan menjual agama untuk kepentingan pribadi, Tuhan pun tidak setuju.
bajang kalman, saya sih setuju aja memang kita akan sulit untuk berada di satu sisi,apalagi dengan niat yang mulia. coba baca buku sosiologi agama,di agama memang sudah ada politik kok.
untuk tulisan om tuan guru tsani
kok om bilang gitu seh!!!
DULU H. LALU GDE WIRESENTANE JUGA SERING NYALON JADI GUBERNUR, TAPI GA LOLOS-LOLOS, PADAHAL BELIAU ADALAH PB NW,,
apakah om TSANI menulis artikel itu untuk menyinggung TGB MAJDI ataukah bapak om tuan guru sendiri??????????
heheheheh……
kacian dechhh….
maulana syaikh juga sering kok duduk di parlemen….
berarti om ATSANI menyindir niniknya juga ya yang jadi ulama tapi sering terjun ke politik????
jelas sekali om TSANI kurang cerdas, ibarat menepuk air di dulang, malah keciprat wajah sendiri….
wassalam..
TGB MAJDI maju teruussss!!!!!!!!!!!!!!!!!
Om Tsani yang terhormat….
saya heran siapa sebenarnya yang disindir Om tsani dalam artikel di atas. ada beberapa kemungkinan siapa sebenarnya disindir oleh om SANI;
1. Kakaknya HLG SAKTI AMIR MURNI yang pernah nyalon jadi BUPATI loteng tapi hanya dapat suara bernomor sepatu alias KO, padahal dia jadi tuan guru..
2. Ayahnya sendiri (alm. HLG Wirasentane) ketika jadi PBNW sering nyalon jadi Gubernur tapi ga dapet2. atau Ayah tirinya TGH. Hayyi Nu’man, sekarang ketua DPP PBR sekaligus jadi tuan gur..
3 atau bisa jadi nyindir KAKEK (NINIK-nya) sendiri (maulanasyekh), walaupun beliau menjadi uan guru, kiyai dan tokoh agama, tapi beliau sering duduk di kursi parlemen dan teap mencari suara ketika kampanye..
banyak lagi yang lain yang disindir oleh om bajang seperi kakaknya SAMSUL, Iparnya MUHYI, malah UMMINYA sendiri yang rata-rata senantiasa bergelut di dunia politik dimana keika berkampanye selalu mengatasnamakan NW, ISLAM, atau dengan Syahadat itu sendiri. malah ketika GDE SAKTI nyalon jadi BUPATI LOTENG, UMMI mengatakan siapa yang milih SAKTI akan masuk surga, hahahaha….
TAPI MISALNYA KALO OM TSANI MENYINDIR MAJDI,,,
itu mah namanya “SYIRIK KERNA TAK MAMPU”
TGB MAJDI, MAJU TERUUUUUUUUUUUUUSSSS!!!!
Salah satu Departemen yang sangat ingin saya bubarkan (walaupun kenyataannya saya memang sangat tidak mampu untuk itu) adalah Departemen Agama, karena seharusnya agama tidak berada dalam sistem pemerintahan namun agama ada kontrol terhadap pemerintahan.
Sdr. Kalman mungkin punya pemahaman yanag berbeda dengan saya dan itu sangat saya hargai. Memang benar bung, ceramah adalah campaign ajaran Tuhan kepada ummatnya lewat mediator seorang Tuan Guru atau apapunlah namanya. Tapi mohon untuk diketahui bahwa saya (saat ini) memang betul2 sudah tidak percaya dengan segala omongan TG (siapapun itu) yang berbicara konteks agama (mungkin sebagai dalil2) dalam ranah kekuasaan implementasi politik. Saya tetap beranggapan bahwa tidak ada yang bebas nilai dalam dunia politik (termasuk atas alasan agama). Kepentingan yang para TG bawa (dan ini saya sangat yakin) bermuatan ‘ambisi’. Entah itu ambisi pribadi atau kelompok. Komunikasi antar persona (antar topeng) didunia ini masih sangat relevan. Misalnya satu contoh kecil yang sangat tidak saya sepakati (dan ini jarang disinggung) adalah pemakaian / penulisan / penyebutan gelar TG untuk menyebut dirinya sendiri ketika sedang ber-statement apapun. Kapan ada yang berani ber-comment sebagai dirinya sendiri? Tidak atas nama gelar dan embel2 keturunan siapapun (maaf, ini cuma contoh kecil aja).. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap para pendahulu kita di Gumi Sasak (yang memang sudah teruji kredibilitas keagamaannya), maka saya bisa meraba2 alasan para TG tidak mau ‘membuka jubahnya’ ketika ber-statement. Maaf.. tidak akan berkomentar lebih jauh saya disini, namun yang pasti keinginan seseoraang untuk melakukan ‘propaganda’ terhadap massa akan dilakukannya (mungkin) dengan cara apapun. Bukankah tidak lagi ada Nabi di zaman ini? Sesuci apakah manusia bisa memberikan opini kebenaran mutlak? Ulama bagi saya adalah ‘imam’ dalam urusan agama. Ia bisa masuk dalam ranah politik (indonesia) sampai dengan batas controlling atau (jika kita harus revolusi) eksekusi penguasa penindas yang dzalim. Sekali ulama masuk di politik (Indonesia) maka dia tidak akan pernah lepas dari segala kepentingan, baik itu kepentingan pribadi, kelompoknya, atau lawan politiknya.
(sekali lagi) semua orang (temasuk saya dan bung Kalman) tentu mempunyai pendapat masing2. Semua tergantung dari jarak ukur pemahaman dan analisa masing2 kepala. Untuk itu saya sangat menghormati perbedaan itu. Maaf, untuk saat ini saya pribadi tidak menjadikan Ulama (TG atau apapun namanya) sebagai ‘tokoh’ saya dalam politik Indonesia. Terimakasih banyak sebelumnya atas tanggapan yang masuk.. Sukses buat lotengpers..
Halo… Bang sulye
Panjang kali tanggapannya, tiang jadi susah baca semuanya. tapi ruhnya sudah dapat dan menurut tiang sangat tepat, sekali lagi sangat tepat. tetapi bukan ditujukan khusus buat TG yang lagi kampanye saja namun lebih tepat untuk semua orang termasuk TG, bang sulye, bang kalman, dan terakhir tiang sendiri. Sudah terlalu banyak bukti ulama yang terjun kekancah politik akhirnya terjerumus betulan, mengapa demikian, karena ulama sudah jelas berbeda dengan umara (kalo tidak bisa dikatakan ulama tidak mungkin bisa menjadi umara). kalau ulama nekat maju itu berarti ada orang sidekitarnya yang memaksa beliau, kalau seandainya jdi maka ulama tadi hanya akan melayani kepentingan orang disekitarnya itu, karena memang tidak punya kapasitas untuk memimpin secara mandiri.
Saran tiang, Lombok sudah terkenal banyak TG-nya itu kesan yang sangat baik, tapi kalo ada TG yang mau jadi pemerintah,,, sayang sekali. Kepada TG yang amat saya hormati, janganlah mau mendengar bisikan setan-setan politik. istiqomahlah sebagai TG karna sebenarnya itu lebih mulia.
yang paling baik adalah pemerintah yang mau jadi ulama, ibaratnya lebih baik jadi bekas maling daripada menjadi bekas TG
Mohon maaf, kalo ada yang merasa, tapi maksud tulisan ini bukan untuk siapa-siapa, tetapi semua orang. karena tiang tidak kenal semua calon gubernur iru secara pribadi
go.. lotengpers
Saya mengerti posisi bang sulye.
Kelihatannya Bang Sulye mendambakan seseorang ulama sebagai seorang yang suci tapi entah definisi suci yang dimaksudkan belum jelas, karena ulama seperti juga manusia terlibat dalam proses kehidupan bukan hanya dalam domainnya saja tetapi dia multi dimensi seperti juga manusia lain yaitu makhluk sosial, budaya dan mungkin juga politik.
Jika dia tidak terlibat dalam politik, tapi dimensi yang lain seperti budaya seperti misalnya dalam kasus sunan kalijaga, syekh saman dll apakah berarti kurang nilai ulamanya? Atau tidak qualified kah dia menjadi budayawan karena dia seorang ulama?
Kehidupan bukan hanya satu dimensi. Tidak pernah menjadi suatu yang hina menjadi komunitas dari banyak bidang. saya heran mengapa politik dan kekuasaan juga menjadi suatu yang spesial dan perlu dikecualikan dari kehidupan sesorang ulama.
Mungkin bang Sulye bicara seorang ulama selalu menjadi guru agama saja karena dia bicara tentang hal yang bersifat mutlak yaitu ajaran Tuhan sedangkan politik selalu dikonotasikan sebagai bidang yang penuh hina,kotor dan penuh relativisme (tidak mutlak).
Saya anggap politik suatu wadah yang netral. Bahkan Nabipun berpolitik. Jika dilihat dari sejarah madinah Nabi Muhammad pun seorang bisa dikategorikan sebagai politkus karena melakukan tindakan politik.
Dan Mengapa harus menunggu dan mencari nabi di jaman modern untuk bicara tentang kebenaran mutlak? Kebenaran mutlak dari manusia (insan kamil) adalah konsep utopia yang tidak ada. Hanya satu kebenaran mutlak bagi orang beragama yaitu Tuhan. Sudah menjadi bahasan bahwa dalam kesahariannya yang berhubungan dengan masyarakat nabi-pun tidak selalu benar dan sering diperingati Allah.
Ulama adalah interpreter ajaran Tuhan dan pewaris Nabi. Seperti halnya interpreter, dia tidak pernah suci dan tidak mewakili pihak yang diinterpretasi.
bajang sulye betul2 merasakan sesuatu yang tidak adil dan tidak benar dalam tatanan sosial budaya politik. saya merasakan saat2 kita muak dengan keadaan, aturan dan tatanan dan berusaha berontak untuk ke keadaan yang lebih baik.
menurut saya akar dari hal tersebut adalah budaya feodalisme(maksud saya bukan utk kaum bangsawan saja ttp semua yg berjiwa feodalisme), Di masyarakat kita terutama Lombok mungkin terlalu banyak di anugrahi gelar2. orang2 yang sudah belajar ke timur tengah begitu pulang langsung diberi gelar Tuan guru, anak yang lahir dari Bapak Lalu akan diberi gelar Lalu, Gde,dll. sesudah berkeluarga mereka di beri gelar Mamiq (di Lobar ssudah pulang h
aji) begitu juga dengan budaya, orang merariq pun mempunyai level2, .sementara amaq kangkung mencari identitas lain untuk berusaha mensejajarkan strata dalam masyarakat.
kita melihat di masyarakat maju dan modern orang mempunyai persamaan hak kewajiban dan cenderung untuk memandang derajat yang sama di sosial budaya politik, sehingga kontrol sosial akan berjalan dengan baik (masyarakat Egaliter).
jadi sangatlah sulit apabila orang tidak diperlakukan sama, apalagi memandang gelar terlebih dahulu sebelum teruji.
maaf ada yg tersinggung dg tanggapan ini, tdk ada mksud scara pribadi ttpi cuma utk tanggapan ke arah lbih baik. maaf kalo ada salah kata.