Profile & Tokoh
MAULANA SYEKH DAN TUAN GURU BAJANG ZAINUDDIN ATSANI
Almagfurullah Maulana Syekh Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdatul Wathan satu satunya organisasi yang lahir di NTB, dengan segenap kemampuan dia membina dan berjuang sehingga perkembangan organisasi tersebut seperti sekarang ini.
Sebagai seorang panutan, Maulana Syekh hidup dengan memegang teguh ajaran Islam bermazhab Syafi’iyah. Keteguhan dalam memegang ajaran agama diimplementasikan dalam keidupannya, baik sebagai seorang pemimpin umat maupun sebagai kepala rumah tangga. Bagaimanapun cintanya terhadap seseorang, namun kalau salah menurut agama, unsure-unsur subjektivitasnya- pun tidak akan mampu mengalahkan hukum agama yang melekat dalam dirinya.
Salah satu bukti, kendati istrinya (Hj. Johariyah) sedang mengandung putri pertama Hj. Rauhun padahal dari ke 4 istrinya dia adalah satu-satunya istri yang bisa hamil kala itu, walaupun sudah lama menikah, normalnya tentu akan memberikan rasa sayang yang lebih, namun yang terjadi malah diceraikan 40 hari menjelang melahirkan. Perceraian dilakukan karena sang istri melanggar aturan yang digariskan agama. “Maulana Syekh adalah orang yang betul-betul hidup sesuai dengan hukum islam. Tidak pandang siapa-siapa kalau salah menurut agama beliu akan bersikap tegas” tutur TGH. Saefuddin di Mataram kemarin.
Seperti itulah suasana keagamaan yang dikembangkan Maulana Syekh entah sebagai pemimpin organisasi, warga Negara, pemimpin umat, maupun sebagai kepala keluarga. Dari rahim istri-istrinya hanya dikaruniai 2 orang putri, Hj. Rauhun dari rahim istrinya Hj. Johariah dan Hj. Sitin Raehanun Zainuddin Abdul Majid (ketua PB NW sekarang) terlahir dari wanita keturunan ulama asal Jenggik Lombok Timur Hj. Rahmatullah. Dari kedua putri tersebut terlahir 12 orang cucu laki dan perempuan. Dan sebagai seorang ulama besar tentu merindukan seorang pengganti yang akan meneruskan perjuangannya membesarkan organisasi. Dari semua cucunya Zainuddin Atsani, satu-satunya cucu yang diberikan gelar tuan guru bajang yang diberikan Almagfurullah Maulana Syekh, bahkan gelar tersebut diberikan sejak Zainuddin bisa berjalan dalam usia 9 bulan.
“Ia dipangil Tuan Guru Bajang oleh Tuan Guru ( Maulana Syekh) sejak baru bisa berjalan, dan usianya baru 9 bulan” tutur Umi Hj. Rahmatullah istri Maulana Syekh yang masih hidup pada wartawan di Mataram. Sejak itulah Zainuddin Atsani dikenal sebagi Tuan Guru Bajang oleh masyarakat. Dan mendapat perlakuan yang cukup positif dari jamaah sebagai obat kekhawatiran saat Maulana Syekh wafat. “Kalau Maulana Syekh wafat masih ada Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani sebagai panutan kami Tuan Guru Bajang HLG Zainuddin Atsani adalah Zainuddin ke 2 setelah Almagfurullah, sesuai namanya Zainuddin Atsani, ujar salah seorang tokoh NW, Ust. Mawardi
Maulana Syekh yang terkenal memiliki tingkat keilmuan yang tinggi yang tidak tentu mudah mengambil keputusan untuk memberikan gelar pada seseorang. bukan lantaran Zainuddin Atsani adalah seorang cucu, namun karena Zainudin Atsani memang telah memiliki keunikan tersendiri sejak masih dalam kandungan, buktinya dari 7 cucu laki-laki tidak satupun dari mereka diberi gelar Tuan Guru Bajang kecuali Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani.
Rupanya gelar Tuan Guru Bajang yang diberikan pada cucunya ini merupakan motivasi awal perkawinan antara Maulana Syekh dengan istrinya Hj. Rahmatullah yang konon satu-satunya istri yang dipilihkan oleh orang tua Maulana Syekh, TGH. Abdul Majid. Karena Hj. Rahmatullah ini keturunan seorang ulama dengan harapan agar keturunannya nanti bisa melahirkan seorang ulama pula. “Sejak saya berumur 10 tahun orang tua Tuan Guru (TGH Abdul Majid) sudah membicarakan dengan orang tua saya untuk menikahkan saya dengan tuan guru. Padahal pada saat itu saya tidak pernah berfikir untuk menikah, saya bilang sama TGH Abdul Majid bahwa saya tidak akan menikah sampai tua” tutur Hj. Rahmatullah.
Baru setelah Hj. Rahmatullah berumur 20 tahun dinikahkan dengan Maulana Syekh dan setelah 15 tahun usia perkawinan baru dikaruniai seorang putri, Hj. Siti Raehanun Zainuddin Abdul Majid (ibunda Tuan Guru Bajang HLG Zainuddin Atsani) pada saat Hj. Siti Raehanun mengidam anak-anaknya, Hj. Rahmatullah selalu mendapatkan firasat dan pertanda bahwa Hj. Siti Raehanun akan hamil, “setiap anakku, Hj. Siti Raehanun hamil selalu dijaga sama ular dan selalu saya bermimpi dan melihat sesuatu” tuturnya. Namun yang aneh, katanya, Zainuddin Atsani dia tidak melihat apa-apa dan tidak dijaga ular seperti cucunya yang lain. Ternyata pertanda kehamilan itu diketahui oleh Maulana Syekh , kala itu Maulana Syekh memerintahkan dirinnya untuk membuka semua jahitan pakaian Hj. Siti Raehanun. “Saya disuruh untuk melepaskan semua jahitan pakaian yang biasa dikenakan Hj. Siti Raehanun untuk disimpan, Raehanun akan hamil tolong lepaskan semua jahitan pakaian yang dikenakannya dan disimpan” tutur Hj. Rahmatullah meniru perkataan suaminya.
Ketika Zainuddin Atsani lahir dalam keadaan bersih tanpa darah Maulana Syekh langsung menimangnya sambil memperhatikan seluruh badan cucunya. Hal in berlangsung selama beberapa hari sebelum diberikan nama, tidak lama kemudian Hj. Rahmatullah dipanggil Maulana Syekh, “ni wah pengentikku, iye taok jak turunan aranku, Zainuddin Atsani ye jari aranan” ( ini sudah yang akan menggantikan saya, dia (Zainuddin Atsani) yang akan menggantikan namaku, Namanya Zainuddin Atsani) tutur Hj. Rahmatullah lagi-lagi menirukan perkataan Maulana Syekh.
Bahkan Maulana Syekh mempercayakan keturunan Zainuddin Atsani yang akan mewarisi nama Zainuddin selanjutnya. Keturunan Zainuddin Atsani yang laki nantinya akan menjadi Zainuddin Atsalits (Zainuddin ke tiga) dan setrusnya. Masa kecil Zainuddin Atsani selalu didekat dan kasih sayang kakeknya, nama Tuan Guru Bajang diberikan saat Zainuddin Atsani baru bisa berjalan, Tuan Guru Bajang mulai dikenal dikalangan jemaah NW saat dirinya selalu diikutkan pengajian-pengajian pada saat usia balita hingga beranjak remaja, bahkan Tuan Guru Bajang kerapkali menggantikan kakeknya menghadiri pengajian, bila sang kakek berhalangan hadir, walaupun masih kecil kerapkali menggantikan niniknya mengadiri pengajian, dia cukup duduk saja dan pengajian diisi oleh Masyaekh Ma’had, para jamaah merasa cukup antusias dengan kehadiran Zainudin Atsani yang masih kanak-kanak yang hanya sekedar duduk menggantikan kakeknya, kata Ust. Asror yang pernah menghadiri suatu pengajian yang diwakili Zainuddin Atsani.
Hingga menjelang wafatnya Maulana Syekh, Tuan Guru Bajang banyak mendapatkan wasiat yang bersifat khusus dalam upaya meneruskan perjuangan kakeknya membesarkan organisasi NW untuk umat dan masyarakat. “Saya berharap warga NW tetap bersatu merapatkan barisan dibawah ketua umum PB yang sah Hj. Siti Rehanun Zainuddin Abdul Majid, sesuai wasiat ninik, PB itu satu bukan dua atau tiga, itu yang harus kita pegang teguh sebagai warga NW” inggat Tuan Guru Bajang HLG Zainuddin Atsani dalam setiap pengjiannya.

Apa arti sebuah nama dan gelar jika nama dan gelar itu tidak sesuai dengan harapan?
Istilah tuan guru bajang sendiri adalah istilah yang diberikan masyarakat lombok pada saat maulana syekh pulang dari mekah karena walaupun saat itu masih muda tapi sudah berilmu dan yang utamanya giat berdakwah ke pelosok-pelosok desa.
Kalau kita bandingkan Zainuddin Tsani dengan Zainuddin abdul Majid bagai siangdan bulan. Walaupun sama-sama kuliah di assaulatiyah mekah, tapi keduanya ibarat air dan api. Zainuddin abdul majid terkenal sampai sekarang bahkan oleh ulama assaulatiyah, sebagai seseorang yang pintar dan jenius dengan nilai 10 di hampir semua ijazah nilainya,sedangkan Zainuddin Tsani adalah seorang pemalas yang beberapa kali tidak pernah naik kelas. Ulama-ulama NW yang mengaji di mekah tahu itu semua, tapi hanya diam dan menjadi omongan mulut ke mulut.
Nama dan gelar adalah harapan orang tua. Tapi artinya harapan orang tua jika tidak dilaksanakan dan diamalkan oleh si penerima gelar? Apa aritnya gelar dan sanjungan jika si penerima sanjungan tidak sanggup memikul beban? Jangan tertipu karena kedua nama ada persamaan ‘Zainuddin’ tetapi kualitas individulah yang menentukan.
Semoga pendidikan masyarakat Loteng terus membaik dari generasi ke generasi, sehingga masyarakat Loteng bisa melihat ’segala sesuatu’ dari pandangan yang realistis dan kritis (alhamduLiLLah kalau bisa iLmiah..) dan tidak hanya dengan gaya pandang ‘tradisional’. Amin …
masyarakat harusnya cerdas, logika dipakai, orang sudah sampai di bulan kita masih dijejali cerita jadul (jaman dulu), dakwah model lama seperti waktu islam masuk (ngamar islam) dulu jangan dipakai, beliau juga mungkin tidak terlalu setuju. sebagai informasi ya gak apa-apa, tapi kalau ada tujuan tertentu kita yang harus cerdas. mudah-mudahan kita pandai menyikapi keadaan sehingga tidak mudah terseret konflik kepentingan. semoga NW maju dan modern. maaf kalau ada salah kata.
semacam Mega yg bawa2 nama Soekarno…
sejarah jadi senjata Politik?
setiap orang bisa berbicara..tapi bukti akan mengatakan apakah ..seseorang itu berkualitas atau tidak…mana tuan guru bajang yang berkualitas atau tidak….mengapa tuan guru bajang zainudin tsani jarang muncul sebagai pengisi ceramah….entahlah..lok kita bandingkan dengan tuan guru bajang zainul majdi..pasti akan terlihat bukti nyata…tapi kadang2 orang terlalu panatik…buta dan tuli melihat bukti nyata..yang penting kita jgan saling menjelekkan….
“Salah satu bukti, kendati istrinya (Hj. Johariyah) sedang mengandung putri pertama Hj. Rauhun padahal dari ke 4 istrinya dia adalah satu-satunya istri yang bisa hamil kala itu, walaupun sudah lama menikah, normalnya tentu akan memberikan rasa sayang yang lebih, namun yang terjadi malah diceraikan 40 hari menjelang melahirkan. Perceraian dilakukan karena sang istri melanggar aturan yang digariskan agama. “Maulana Syekh adalah orang yang betul-betul hidup sesuai dengan hukum islam. Tidak pandang siapa-siapa kalau salah menurut agama beliu akan bersikap tegas” tutur TGH. Saefuddin di Mataram kemarin”
PERLU DAN PENTING UNTUK DIKETAHUI DAN DIMENGERTI BAHWA MAULANA MENCERAIKAN UMMI JOHAR (NENEK TGB asli) ITU KARENA BELIAU INGIN NIKAH LAGI UNTUK YANG KELIMA KALINYA, PADA SAAT ITU ISTERI BELIAU UDAH 4 ORANG, MAKA TIDAK MUNGKIN LAGI MENIKAH KECUALI KALAU SALAH SATU DICERAI..UMMI JOHAR TERMASUK ISTERI TUA SAAT ITU,.PADA SAAT ITU MASING-MASING ISTERI PANIK MELIHAT MAULANA INGIN KAWIN LAGI, KARENA PASTI DIANTARA MEREKA HARUS ADA YANG JADI KORBAN. AKHIRNYA MUNCULLAH SIKAP SALING FITNAH DIANTARA MEREKA DENGAN MENCARI KESALAHAN YANG LAIN UNTUK DILAPORKAN KEPADA MAULANA…FITNAH KALI FITNAH..AKHIRNYA UMMI JOHARLAH YANG KENA GETAH DAN JADI KORBAN UNTUK DICERAI….
KETIKA RAUHUN LAHIR, HARI ITU MAULANA LANGSUNG MENIKAH DENGAN GADIS IDAMAN BELIAU DAN BERBULAN MADU KE SAUDI ARABIA….
ITULAH AWAL SEJARAH PAHIT ORANG YANG BERNAMA RAUHUN….
SILAHKAN TEKA SENDIRI SIAPA YANG BERBUAT ZALIM, ORANG-ORANG ITU SEKARANG SEDANG MEMBAYAR KARMANYA AKIBAT MENZALIMI ORANG LAIN….
MOHON PENULIS PROFIL & TOKOH DIATAS TELITI DULU KEJUJURAN ATAU KEBOHONGAN SUMBER…
SAYA MELIHAT BANYAK REKAYASA OLEH SUMBER DATANYA, BERLEBIHAN, TERLALU MENYANJUNG ORANG YANG GA PAS UNTUK DISANJUNG KARENA KELEBIHAN ATAU KEUNGGULANNYA BELUM TERBUKTI SAMAPAI DETIK INI. YANG ADA ADALAH SANJUNGAN BUTA……..
jangan tertitipu dengan TGB gadungan…..
hidup TGB asli ZAINUL MAJDI….
maju teruuussss
@barisan nw
Rauhun udah berapa kali KAWIN/CERAI bos?
saya minta data/fakta yang akurat yaah
thanks