Desa Sade Dan Dilemanya

Suasana Desa Sade

Loteng— Keberadaan desa Sade sebagai salah satu objek pariwisata di Lombok Tengah dimata para warganya ternyata merupakan sebuah dilema, bagaimana tidak disatu sisi pemerintah menuntut kelestarian desa Sade tetap dijaga, namun dilain pihak para warga Sade tidak mau ketingalan dalam melakuakan perubahan dan warga juga ingin berkembang seperti warga desa lainnya.

Adapun perubahan yang ingin dilakukan warga salah satunya adalah perubahan bentuk dan konstruksi bangunan rumah, seperti yang diketahui selama ini rumah warga Desa Sade terbuat dari bedek (pagar bambu-red) dan lantainya terbuat dari tanah, dari segi kelayakan dan kenyamanan jelas rumah seperti itu jauh dari nyaman dan layak untuk ditinggali.

 

Namun tidak dapat dipungkiri juga dengan kondisi seperti itu desa Sade berhasil menyedot perhatian para wisatawan dan hal tersebut berimbas pada perekonomian warga Sade. Akan tetapi dengan peningkatan perekonomian itu juga mendorong para warga Sade untuk melakukan perubahan pola hidup mereka termasuk dalam hal tempat tinggal atau rumah.

Salah satu tokoh masyarakat Sade, H.L. Putria, Spd kepada wartawan menyatakan bahwa keinginan para warga Sade tersebut tidak bisa disalahkan karena hal tersebut adalah wajar, namun sekarang tinggal bagaimana pemerintah menyikapi hal tersebut. Bagaimana agar kelestarian desa Sade tetap terjaga namun juga keinginan warga untuk berkembang dan berubah juga terakomodir.

H.L. Putria dalam kesempatan tesebut menghimbau kepada pemerintah dalam hal ini Pemkab Loteng agar tidak hanya meminta warga Sade untuk melestarikan desanya saja akan tetapi juga memberikan solusi yang tepat bagi para warganya. Salah satu solusi yang bisa diambil oleh pemerintah menurut H.L. Patria adalah dengan menyediakan lahan tersendiri bagi para warga desa Sade untuk membangun rumah yang layak sehingga kelestarian desa sade tetap terjaga baik itu dari bentuk bangunan maupun pola hidup masyarakatnya.

Desa Sade memiliki luas sekitar lima hektar yang dihuni oleh 260 kepala keluarga, sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan. Selama ini desa Sade terkenal dengan kerajinan kain songketnya, namun untuk pemasaran kain songket tersebut warga hanya menjualnya di desa Sade saja dan tidak dipasarkan di luar desa, jadi bagi wisatwan yang ingin membeli kain songket Sade harus berkunjung dahulu ke desa Sade. [le]

 

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Sejak kapan H.L. Putria, S.Pd. jadi tokoh masyarakat Sade? Setau saya dia orang dari desa Ketare.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: