Dishutbun Dan BPN Saling Curiga

Loteng— Permasalahan mengenai status lahan untuk menempatkan mesin pengolahan jarak di Desa Rembitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah beberapa waktu yang lalu dimana pihak Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Loteng mengklaim lahan tersebut termasuk dalam kawasa hutan lindung saat ini bukannya menemukan titik terang melainkan bertambah rumit, pasalnya hasil pendataan yang dilakukan oleh Dishutbun Loteng menemukan bahwa sekitar 265 hektar dari lahan tersebut ternyata telah dikuasai oleh warga setempat.

Dan yang lebih membuat pihak Dishutbun Loteng kebingungan adalah sebagian besar lahan yang dikuasai warga tersebut ternyata warga telah mengantongi sertifikat kepemilikan lahan yang diterbitkan diatas  tahun 2000, selain itu juga warga memiliki bukti penguasaan berupa Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) yang juga terbit diatas tahun 2000.

Sementara itu klaim pihak Dishutbun berdasarkan ketetapan pemerintah pusat yang menyatakan bahwa kawasan tersebut adalah kawasan hutan lindung yang ditunjukkan melalui peta yang diterbitkan pada tahun 1996 lalu. Kepala Dishutbun Loteng Drs. H. Mustajab Hakim mengaku tidak tahu menahu masalah sertifikat yang telah dikantongi oleh warga, Mustajab menduga ada keterlibatan Badan Pertanahan Nasional dalam kasus ini.

“kami tidak tahu, kok bisa BPN menerbitkan sertifikat kepemilikan lahan kepada warga sedangkan lahan tersebut merupakan kawaan hutan lindung” ungkapnya. Ditempat terpisah Kepala BPN Loteng, Dra. Roro Dewi Rozadina juga mengaku tidak tahu menahu masalah sertifikat tersebut akan tetapi dia meminta kepada pihak Dishutbun Loteng untuk membawa sertifikat bukti kepemlikan tersebut ke BPN Loteng untuk dicek kebenarannya. “kalau memang ada silahkan bawakan buktinya kepada kami” tukasnya. [Le]

 

 

4 Tanggapan

  1. Saling menipu sesama penipu, tidak menipu jadinya tertipu..

    Seperti lagunya Iwan Fals

  2. conflict kepemilikan lahan antara pemerintah dan masyarakat memang telah terjadi sejak zaman belanda. hal ini terjadi karena kurangnya “koordinasi” (pelibatan masyarakat lokal dalam penentuan batas hutan) pemerintah dan masyarakat.

  3. Masalah penyerobotan/pendudukan Kawasan Hutan untuk usaha pertanian perlu mendapatkan perhatian yang serius dari semua pihak, sehingga tidak ada satu kepentingan yang terabaikan. Upaya tepat yang mungkin dapat menyelesaikan permaslahan tersebut yaitu dengan mensinergikan antara kebutuhan masyarakat akan lahan usaha pertanian dengan kepentingan untuk menjaga kelestarian kawasan hutan. Penerangan kepada masyarakat tentang fungsi dan dan manfaat kawasan hutan yang dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk turut serta dalam usaha pelestarian hutan harus terus ditingkatkan. Pelibatan masyarakat dalam pengelolaaan hutan seperti pola Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan Hutan Rakyat juga merupakan salah satu upaya yang tepat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyerobotan lahan dalam kawasan hutan karena dengan melibatkan masyarakat khususnya yang bermukin di sekitar kawasan hutan dapat menumbuhkan rasa meiliki dalam artian ikut bertanggung jawab dalam menjaga kelestian hutan sehingga tidak lagi melakukan aktifitas dalam kawasan secara ilegal. Disamping itu penyuluhan secara intensif terhadap petani yang memiliki lahan pertanian dalam kawasan hutan tentang teknik pengolahan dan konservasi tanah yang baik sehingga dalam pengolahan tanah tersebut tidak menyebabkan terjadinya erosi dan tanah longsor yang pada akhirnya mengancam kelestarian kawasan hutan.

  4. Waduh ibu Roro bantu selesaikan masalah dong, sertifikat tanah kan memang urusan BPN, kami rasa kalo mau dicek bisa saja, kan arsipnya ada, mana2 tanah yg ada di lokasi bersangkutan, ato ndak mau repot ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: