Rutan Praya Overload

Loteng— Rumah Tahanan Negara (Rutan) Praya Lombok Tengah saat ini mengalami kelebihan daya tampung (Overload). Seharusnya kapasitas atau kemampuan tampung yang dimiliki oleh Rutan Praya adalah sebanyak 114 orang, namun pada kenyataannya pada saat ini Rutan Praya dihuni oleh 131 orang Narapidana dan tahanan.

“dari 131 penghuni tersebut, 61 orang merupakan Narapidana dan sisanya merupakan tahanan” ungkap Kepala Rutan Praya, Sutadi Budiarjo kepada wartawan di ruang kerjanya Senin kemarin.

Menurutnya ada sejumlah ruang tahanan yang mengalami Overload atau kelebihan daya tampung karena dari keseluruhan jumlah narapidana yang ada hanya ditampung dalam  25 ruangan dimana jumlah ruangan tersebut sangat jauh dari cukup untuk menampung 131 orang. Namun karena hal tersebut sudah menjadi tuntutan maka pihaknya tidak bisa berbuat banyak.

Sutadi juga menjelaskan bahwa pihaknya telah berkali-kali mengajukan usul ke pusat untuk dilakukan penambahan ruangan namun sampai saat ini sama sekali belum mendapat tanggapan. “kami prihatin kalau kami memaksakan untuk menaruh tahanan dan narapidana diruangan yang sudah penuh karena nantinya akan menimbulkan masalah” terangnya. [Le/Lp]

Satu Tanggapan

  1. Kayaknya seh, LP itu diperuntukkan untuk narapidana yang sedang menjalani masa “pemasyarakatan” [walau sebenarnya dia sedang diisolasi dari masyarakat]. Kalau dilihat dari komposisi penghuni LP tersebut di mana jumlah narapidana lebih sedikit dari pada tahanan titipan, sepertinya manajemen di lembaga peradilan kita kurang OK. Karena ketidak-OK-an tersebut, terjadilah penumpukan pada tahapan “proses”. Semua tersangka [input] menjalani waktu yang terlalu lama untuk menjadi tahanan dalam pengusutan/persidangan [proses] sehingga keluarannya [narapidana/orang bebas] lebih sedikit.

    Panjangnya proses peradilan ini sangat tidak menguntungkan bagi semua pihak, misalnya seperti penjara yang mengalami overload. Lalu bagaimana pelaku kriminal ringan yang ternyata hukumannya lebih singkat dari masa tahanannya? Itu kan nggak adil. Bagaimana kita akan memberikan kompensasi?

    Moga aja panjangnya proses peradilan kita memang disebabkan karena kehati-hatian semua pihak dan para penegak hukum kita ingin mencari keputusan yang seadil-adilnya, bukan karena susahnya mencapai kesepakatan harga dalam setiap kasus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: