Padi Puso, Dispertanak Loteng Tuding Kesalahan Petani

Loteng— saat ini sekitar 1.319 hektar tanaman padi di Kabupaten Lombok Tengah mengalami puso atau gagal panen, gagal panen dialami oleh para petani di Kecamatan Praya Barat Daya, Praya Timur, dan Kecamatan Pujut, dimana ke-empat kecamatan tersebut memang termasuk dalam daerah rawan puso atau gagal panen akibat kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian Dan Peternakan (Dispertanak) Lombok Tengah, Ir. L. Syarafudin ketika dikonfirmasi mengenai hal tersebut menjelaskan bahwa pihaknya telah memperkirakan masalah puso tersebut “sejak awal musim tanam kedua lalu, telah diperkirakan akan terjadi puso” ungkapnya.

Perkiraan tersebut berdasarkan jumlah debit air yang semakin berkurang serta intensitas hujan yang sangat minim, misalnya air irigasi di Bendungan Batujai, pada saat normal pasokan air bisa menapai lebih dari 1,000 liter per detiknya, namun sekarang hanya 800 liter perdetik, selain berpengaruh terhadap irigasi, pasokan air baku juga berpengaruh terhadap Water Treatment Plan (WTP) yang awalnya mencapai 100 sampai 120 liter per detik namun saat ini hanya 45 sampai dengan 50 liter per detik saja.

Menurut Syarafudin sebelumnya Pemkab Loteng melalui surat himbauan yang ditandatangani Bupati meminta kepada masyarakat, terutama petani yang berada diwilayah hilir supaya tidak menannam padi. Akan tetapi petani dianjurkan untuk menanam tanaman palawija. Namun para petani tidak mengindahkan himbauan Bupati tersebut, hal tersebut dilihat dari luas areal yang ditanami padi yakni sekitar 19 ribu hektar sedangkan Dispertanak sendiri menargetkan 12 ribu hektar. Akibatnya terjadi ketidak seimbangan antara air irigasi dan lahan yang akan dialiri air sehingga padi banyak yang puso.

Pada kesempatan tersebut juga Syarafudin menolak dengan tegas anggapan bahwa gagal panen yang dialami oleh para petani akibat kelalaian Dinas yang dipimpinnya. “itu merupakan kesalahan petani karena tidak mau mengikuti himbauan” tegasnya. Sementara itu Amaq. Rahmat salah seorang petani di kecamatan Praya Barat Daya yang ditemuai wartawan saat menyabit padinya yang kering mengaku tidak tahu menahu masalah himbauan Bupati tersebut “saya tidak tahu ada himbauan dari datu (Bupati-red) itu” ungkapnya.[Le]

2 Tanggapan

  1. bukan sepenuhnya salah petani pak..
    koreksi juga dong kinerja instansi bapak!! sosialisasinya sampe mana????? ato tanggung jawabnya cuma sekadar minta tanda tangan bupati aja… (kok sama saja!!)
    CAPE DEHHHHHH!!!!!

  2. Pak Kepala Dinas, petani kita adalah petani tradisional, Pak! Bukan petani seperti di Amerika yang sudah bergantung pada teknologi peramalan cuaca, dan setiap laporan mengenai anomali cuaca dari NOAA akan menjadi bahan pertimbangan yang penting buat mereka.

    Petani kita adalah petani tradisional yang masih berpegang pada tata cara bertani termasuk pola tanam yang diwariskan papuq baloq, sehingga kalau ada pendapat yang bertentangan dengan apa yang sudah mereka yakini, apalagi itu akan disampaikan oleh orang-orang muda, memang tidak jarang mereka akan menganggap kita sok tahu.

    Tapi, di situlah tantangannya, Pak. Sosialisasinya bagaimana? Petugas PPL-nya kompeten nggak untuk melakukan sosialisasi terhadap masyarakat dengan mindset seperti di atas? Kalau petugas sosialisasi Bapak tidak berhasil, jangan lantas salahkan petani. Bapak harus mencari solusi karena Bapak digaji untuk berfikir mencari terobosan, bukan hanya melaksanakan ‘PETUNJUK BAPAK BUPATI’.
    Kalau sekedar melestarikan “Harmoko Syndrome” yang melakukan sesuatu hanya “MENURUT PETUNJUK BAPAK PRESIDEN”, saya juga bisa jadi Kepala Dinas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: