Clear And Clean Lahan Eks LTDC Macet Gara-Gara Dana

Loteng— Proses penyelesaian masalah pembebasan lahan eks LTDC seluas 1.250 hektar di kawasan pantai Selatan Loteng saat ini menghadapi kendala yang cukup besar, padahal EMAAR Properties yang akan mengelola lahan tersebut telah member batas waktu hingga September ini.

Sehingga kemungkinan untuk melakukan perpanjangan waktu penyelesaian akan dilakukan pemerintah Kabupaten Loteng maupun Pemprov NTB. Asisten II Setda Loteng Drs. H.L. Hajar Asmara yang dikonfirmasi di ruang kerjanya Senin (1/9) kemarin mengungkapkan bahwa permasalahan yang dialami tim adalah masalah pendanaan. Menurutnya anggaran yang akan digunakan untuk melancarkan proses penyelesaian sampai saat ini belum jelas atau belum pasti.

“Memang sebelumnya Pemkab Loteng menargetkan semua permasalahan bisa dituntaskan pada bulan Agustus 2008 atau paling telat pada bulan September ini. Namun dengan melihat kondisi dana yang ada tampaknya hal tersebut sulit terwujud” ungkapnya. Kendati demikian Pemkab Loteng dan pihak Provinsi akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk menuntaskan semua permasalahan yang terjadi dilapangan.

Saat ini Pemkab sendiri telah menyiapkan dana sebesar Rp. 3 miliar yang dianggarkan melalui APBDP 2008, namun karena eskalasi permasalahan cukup banyak dan tingkat permasalahannya beragam maka dana sebesar itu tidaklah cukup untuk menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi. “kami sangat berharap supaya pihak Provinsi untuk memperhatikan permasalahan yang terjadi, yakni dengan segera menetapkan dan menganggarkan dana untuk upaya penyelesaian permasalahan lahan eks LTDC tersebut” jelasnya.[Le/Id]

Satu Tanggapan

  1. Nah, ada apa lage neh?
    Kedatangan EMAAR adalah sebuah peristiwa yang ditunggu-tunggu oleh “seluruh rakyat LoTeng” untuk membebaskan LoTeng dari keterbelakangan yang akut.
    “Semua” menantikannya seperti kedatangan sang juru selamat. Tapi kenapa dalam mempersiapkan kedatangannya kita kok ga bisa bekerja optimal? Mereka adalah para professional yang tidak akrab dengan jam karet, hari karet, apalagi bulan karet dan tahun karet a la Indonesia. Melihat ketidakprofessionalan kita sejak awal, apa kita tidak khawatir mereka jadi tidak yakin dengan kemampuan kita sebagai mitra lokal mereka?
    Disinilah kelihatan semakin kentara betapa penentu kebijakan kita hanya melihat proses pembangunan dalam arti fisik semata, misalnya dengan ide pembangunan WISMA DAERAH yang akan menghabiskan anggaran belasan milyar rupiah. Di sinilah mamiq-mamiq kita tidak bisa menentukan prioritas dengan bijak.
    Mengapa biaya pengurusan lahan yang sangat krusial dan paling utama yang akan menentukan bagi opoerasional EMAAR di sini tidak mendapatkan prioritas pendanaan? Semua kepala di LoTeng tahu bahwa EMAAR nggak akan mungkin beroperasi di LoTeng kalau lahan Ex-LTDC itu tidak clear. Tapi kenapa hanya 3 M? Lalu kenapa wisma daerah yang belum jelas fungsinya mendapatkan alokasi anggaran sebesar belasan M?

    Tanya KENAPA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: