Karyawan EMAAR Properties Di Rampok

Loteng— Beberapa orang karyawan EMAAR Properties yang sedang mengerjakan proyek di desa Kuta, Kecamatan Pujut Loteng, Senin (1/9) lalu dirampok. Kawanan rampok yang diperkirakan lebih dari lima orang tersebut dengan leluasa menggondol sejumlah barang berharga yang ada di rumah kontrakan para karyawan EMAAR Properties tersebut.

Dari laporan polisi yang berhasil dihimpun wartawan menyebutkan hari Senin sekitar pukul 02.00 wita rumah kontrakan karyawan EMAAR Properties di dobrak oleh kawanan perampok. Korban Andi Rustam (52), Tatang (24), Agus S, Tubagus dan Abdul Kadir (38) terpaksa merelakan barang-barang berharga mereka digondol para perampok.

Turut digondol juga oleh para perampok adalah berkas-berkas penting proyek EMAAR Properties yang sedang mereka kerjakan, mereka tidak menyangka kalau mereka akan menjadi korban perampokan karena mereka merasa cukup bergaul dengan masyarakat sekitar. [Le]

11 Tanggapan

  1. Siap-siap saja EMAAR membatalkan proyeknya di Lombok

  2. Aduuh!
    Ada apa seh sebenarnya dengan mental masyarakat kita? saya tidak mengatakan bahwa kriminal itu hanya ada di Lombok. Tapi sebagai orang Lombok Selatan, saya merasakan sendiri betapa mental sebagai pencuri itu masih melekat di dalam bawah sadar sebagian besar anggota masyarakat kita. Apakah itu merupakan turunan dari fakta kultural kita bahwa sebagian besar kita adalah keturunan “maling”? [Maaf, maling yang saya maksud di sini adalah proses awal pada perkawinan suku Sasak].

    Jangankan karyawan PT. EMAAR yang merupakan orang-orang dari luar! saya sendiri sebagai orang Lombok Selatan juga merasa was-was kalau saya kemping di tanah saya sendiri di pantai An, padahal saya sendiri tidak membawa barang-barang berharga.

    Bila seseorang tanpa atau dengan sengaja meninggalkan barang-barangnya tanpa pengawasan, maka saya yakin sebagian besar orang yang melihat barang tersebut akan mengambilnya walaupun ia belum tentu membutuhkan barang-barang tersebut.
    Kenapa demikian?

    Karena sebagian dari mereka yakin bahwa orang lain juga akan melakukam hal yang sama terhadap barang tersebut. “Ngapain saya harus sok alim sendiri sementara nanti barang tersebut juga akan diambil orang lain yang melihatnya?”. Begitulah kira-kira dasar pertimbangannya.
    Andai saja kita berfikir ‘Ngapain saya ngambil barang itu? Itu kan bukan hak milik saya.”

    Dengan asumsi bahwa semua orang akan melakukan hal yang sama, maka kita secara tidak sadar akan masuk ke dalam sebuah kompetisi para maling. Sebagai konsekuensi dari sebuah kompetisi, maka masing-masing pihak/individu akan melihat setiap peluang untuk menjadi MALING.

    Sialnya, para maling juga nggak akan peduli tentang kerugian materi dan hancurnya image kolektif kita akibat perbuatan mereka. namanya juga MALING.

    Akhirnya, mental maling ini diperkaya oleh gaya hidup konsumtif kita sehingga tidak sedikit para pejabat yang seharusnya membasmi maling malah ikut-ikutan jadi MALING.

  3. sinyal kalau gap kesejahteraan di daerah itu luas menganga. jangan salahkan mereka maling, tapi mari kita bergaul dan dengan mereka guna mengetahui untuk apa sih mereka maling-maling dan selanjutnya memberikan solusi ato alternatif agar berhenti maling, he3….. duh gusti allah, tunjukilah jalan terang kpd saudara2 kami di lombok selatan agar mereka bisa keluar dari jalan redup yg mereka tempuh selama ini, sejahterakanlah mereka… amin. [ini bulan barokah]

  4. maling yang mengambil barang milik orang lain jangan kaitkan dengan mencuri calon istri, bung!

    mengambil calon istri adalah kesepakatan bersama dan dengan jalan kesatria. sebab kalau ada yang menghalangi akan ada pertempuran dan harus dilalui dengan jalan kesatria pula.

    kriminal adalah kriminal apapun alasan dan dimanapun adanya. adat tidak pernah mendorong apalagi mengembangkan secara sistimatis masalah kriminal di masyarakat.

    mencuri istri perbuatan kesatria sedang mencuri atau maling harta orang lain adalah perbuatan tercela.

    sasak kok tidak tahu! atau minder? sayang sekali sifat satria itu tidak turun dengan otomatis karenanya berjuanglah menjadi kesatria. makin banyak kesatria makin dikit maling dan lama lama habislah maling karena pepadu sasak adalah kesatria semua, amiin!

  5. yaaaa ORANG LOMBOK malas malas siiiiiiiiiiih………maunya hidup enak2an…….sekali PEMALAS tetap PEMALAS. Biar ada proyek apapun….mereka tetap MALAS………..

  6. Begitulah Lombok…, hidup Lombok !!😀

  7. ahh.. melilaq doang…!!!??

  8. lihat para buruh bangunan di bali sebagian besar sasak dan banyak yang berhasil. lihat tki di malaysia ada banyak yang berhasil terutama yang legal. sasak tidak pemalas tapi kerap dimarginalkan ditanah sendiri…

    aku pernah pulang untuk memberikan jiwa dan ragaku ditanah tumpah darahku itu tap aku dibanting banting dan aku tak dapat melanjutkan cita citaku akhirnya aku pergi dengan hati pilu…

    apakah aku sasak pemalas? tidak aku lebih rajin dari orang barat sekalipun…

    jangan kalian membabi buta meneyepelakan sasak! jangan pula sakit hati kalau ada yang merendahkan, berbuatlah sesuatu dan tunujukkan bahwa sasak dapat memebri kontribusi besar di manapun berada, amiin

  9. Saya sangat setuju dengan posting Miq Junep bahwa mencuri calon istri tidak bisa disamakan dengan dengan mencuri harta milik orang lain.

    Tapi memang dalam posting saya, saya menempatkan fokus pada TINDAKAN mencuri itu, yaitu mengambil sesuatu yang BUKAN HAK kita tanpa sepengetahuan pemilik yang berhak, dan tidak sedikitpun menyingung MOTIF dari tindakan tersebut. Lagipula, dalam bahasa colloquial di Lombok Selatan, secara sederhana peristiwa tersebut juga sering diungkapkan dengan kata itu [maling]. Misalnya seseorang akan mengatakan: “Paling’n uah! Segerah’m eaq ngantih jengke taun lemaq?” [ambil dah!, masak harus nunggu sampe tahun depan?]

    Banyak orang luar yang salah mengartikan dan mengkritik tata cara tersebut. Bukankan dengan pernikahan kita niatkan untuk memperluas kekeluargaan dan silaturahmi, mengapa harus dimulai dengan peristiwa-peristiwa ‘yang tidak mengenakkan’? Ada juga yang menganggap praktek tersebut rawan perzinaan.

    Tapi saya memandangnya ini sebagai bentuk kemerdekaan para perempuan Sasak untuk memilih sendiri jodohnya tanpa adanya intervensi yang berarti dari pihak orang tua. Dan di sinilah saya merasa sedikit bangga di samping karena memang tata cara ini unik dan memberi warna sendiri sebagai TATA CARA SASAK. Mengenai kerawanan terhadap zina, saya pikir praktek pertunangan lebih membuat lingkungan sosial menjadi permisif terhadap tindak-tanduk pasangan yang sudah resmi bertunangan. Dan tidak jarang hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, bahkan bertahun-tahun.

    Kembali kepada modal kebebasan perempuan Sasak tadi, sayangnya kebebesan tadi langsung menguap ketika pasangan tadi memasuki kehidupan berumahtangga yang sebenarnya. Modal kebebasan tadi tidak bisa dijadikan modal dasar yang akan membuatnya dipandang sebagai mitra yang sejajar oleh suami.

    Para calon dan suami, adakah yang berani mulai?
    Hehe,..kok ngomongnya jadi belok ke feminisme?

  10. Berembe ntan yak inik maju, lamun masih anggap dowen batur, dowen tite.

    Berembe ntan yak ndek maling, lamun wah Lombok Tengah lapah jak, selapuk tegitak empah, paran barang halal doang.

    Ini PR buat kita semua, untuk merubah mental maling jari mental MULIE. Silak batur senamian sak telilak dait tendengah unin, coba tebareng bareng peririk semeton jarin, aden sak dendek jari maling.

  11. aku ingin berkembang di tanah lombok,tp lombok blm bisa berkembang makanya aku pergi dulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: