Terkait Permasalahan Lahan Eks LTDC, Depkeu RI Turun Tangan

Loteng—Terkait lambatnya penyelesaian kasus pembebasan lahan eks LTDC oleh tim yang telah dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, akhirnya memaksa Departemen Keuangan (Depkeu) RI untuk turun tangan guna membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Selasa (2/9) lalu 25 orang tim khusus dari Depkeu RI datang ke Lombok Tengah, kedatangan tim ini guna memverifikasi, menilai dan mengevaluasi keberadaan lahan eks LTDC yang akan dibangun EMAAR sebagai kawasan pariwisata yang bertaraf internasional.

Dirjen Kekayaan Negara Depkeu RI yang juga merupakan ketua tim, Arik Haryano mengatakan kepada wartawan bahwa kedatangan mereka ke Loteng adalah untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan lahan eks LTDC, “kami datang untuk menginventarisir permasalahan-permasalahan yang terjadi yang selanjutnya akan dicari solusinya” ungkapnya.

Disamping itu dijelaskan juga bahwa kedatangan tim tersebut adalah untuk mendampingi Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang saat ini diberikan wewenang untuk menyelesaikan permasalahan lahan, “mengingat kawasan pariwisata tersebut rencananya akan segera dikembangkan perusahaan asing bertaraf internasional maka BTDC selaku yang berwenang perlu untuk melakukan pendataan dan penilaian terfhadap lahan yang ada, termasuk dengan permasalahan-permasalahannya” paparnya.

Sementara itu Asisten II Setda Loteng, Drs H. L. Hajar Asmara membenarkan adanya permasalahan-permasalahan mengenai pembebasan lahan tersebut, menurutnya semua permasalahan tersebut dikategorikan menjadi tiga bagian yakni keseluruhan lahan eks LTDC seluas 1.250 hektar terdapat beberapa lahan yang diklaim dan diduduki serta dikelola oleh masyarakat, selanjutnya ada lahan yang dikelola oleh masyarakat karena dinilai lahan tersebut lahan nganggur dan akan lebih produktif kalau di kelola, dan ada juga lahan yang termasuk lahan LTDC namun sampai saat ini belum dibebaskan.[Le]

7 Tanggapan

  1. Kasus dan SKIM, BPK Pusat turun tangan, Kasus Lahan eks LTDC Depkeu RI turun tangan, heran apa-apa orang pusat turun tangan, apa mungkin para pejabat loteng dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri?

  2. Memang benar loteng tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, karena para pejabatnya tidak capabel dan berkompeten, mereka jadi pejabat karena faktor kedekatan dengan Ngoh saja, mana ada pejabat loteng yang pintar?! kalau memang ada tolong sebutkan satu saja !!

  3. Memang benar loteng tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri [membeo Dewi], tapi bukan karena tidak ada pejabatnya yang capabel dan kompeten. Saya yakin di antara pejabat-pejabat kita banyak yang pintar. Pejabat-pejabat kita pada masa mudanya dulu tidak beda seperti generasi kita. Mereka banyak yang menuntut ilmu di perguruan tinggi ternama di luar daerah.

    Cuman, saya pikir masalahnya terletak pada model kepemimpinan para pemimpin kita yang terlalu, dan model kewarganegaraan masyarakat kita yang terlalu suka “ngaule”, di mana pemimpin [baca: bupati] adalah datu, sedangkan rakyat adalah “kaule” alias “panjak”. Dengan model kepemimpinan tersebut maka sudah pasti para kaule akan dengan senang hati memilih calon yang berasal dari golongan bangsawan. Karena hanya mereka yang berasal dari golongan bangsawanlah yang pantas menduduki posisi dan memiliki sifat kedatuan tersebut. Maka dengan didudukinya tampuk kepemimpinan oleh para bangsawan, maka sempurnalah ketundukan para “kaule” kepada datunya. Selanjutnya yang ada hanyalah “Inggih dhewek titiang ngiring napi saq pekayunan datu kaji. dhewek titiang puniki cume panjakde kaji”!

    Dengan ketundukan seperti itu, mungkin semuanya akan berjalan lancar apabila kebetulan kita diperintah oleh datu yang pintar, adil dan bijaksana.
    Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Adakah ada di antara para abdi yang akan berani untuk tampil lebih pintar daripada DATUnya? Adakah para abdi yang akan berani mengatakan bahwa kita sudah terlalu banyak mengangkat prajurit honorer di kadipaten sehingga kita tidak mampu menggaji dan membelikan sepatu buat mereka, sementara kerjaan mereka hanya latihan baris-berbaris?

    Kayaknya seh nggak ada tuh!
    Mau aman? Tampillah selalu lebih rendah dari datumu.
    Kalau datu mengambil kebijakan yang mungkin tidak populer, abdi yang “pintar” tidak perlu berusaha membenarkan, tapi berusahalah mencari pembenaran.
    Kalau datu tidak mengetahui sesuatu tapi gengsi bertanya, abdi yang pintar tidak perlu memberi tahu, cukuplah tahu diri dan mengatakan bahwa dia lebih tidak tahu.

    Tapi bagaimana kalau datu belum sekolah?
    Moga aja para abdi tidak mengatakan KAULE TIDAK BUTUH SEKOLAH! Apa jadinya kalau udah gitu?

    Tapi [lagi] saya yakin datu pernah sakit sehingga nggak ada abdi yang akan mengatakan KAULE TIDAK PERLU TABIB, RUMAH SAKIT MAUPUN PUSKESMAS!

  4. Wah membaca komentar pak arya karang sovak saya jadi minder…
    tapi saya setuju dengan pemikiran pak arya…
    terimakasih pak wawasan saya semakin bertambah, lombok tengah sangat memerlukan orang-orang seperti pak arya ini….

  5. lombok tengah… hari gini masih “datu2″an…??! mestinya kan jangan mau dipimpin oleh org yg tidak “pintar”!
    jadi “Orang Besar” bukan warisan kan??🙂

  6. he22.., bajang arya jadi pembayun ya..:’ inggih lamun ara’ waktun pelinggih datu kaji, dhewek titiang niki melet merajah base sasak zaman laeq.., nunasan datu kaji..?

  7. Ass.Wr.Wb.

    Saya sangat yakin bahwa kondisi masyarakat kita masih dalam entry point tak lebih dan tidak kurang, mengapa saya sebutkan hal seperti itu, karena kondisi pemikiran kita yang masih sangat praktis hanya berada dalam lingkaran konflik internal suku dan lingkungan sendiri.

    Mengapa sebagian kita belum melangkahkan kaki memandang jauh ke depan yang masih terbentang luas? mengapa kita masih saja berdiri dibalik bayang-bayang? mengapa kita masih mengedepankan konflik dibanding menyelesaikan akar maslah itu sendiri? Nah hanya kita-kita yang kiranya paham jawabannya.

    Saya yakin rekan-rekan yang sudah online di sini mempunyai pola pikir selangkah lebih maju dari rekan-rekan kita yang belum online.

    Kiranya kita dapat menunjukkan bahwa pola pikir kita memang selangkah lebih maju dari yang lain dengan cara mencari mufakat dari akar masalah yang mungkin dapat kita urai sehingga dapat menjadi masukkan bagi siapapun yang memimpin daerah kita. Kalau tidak dimulai dari kita-kit yang jeli memberi masukkan untuk memecahkan permasalahan di daerah kita siapa lagi yang akan memberi masukkan.

    Semoga sedikit saran ini bagi rekan-rekan dapat menjadi renungan kita bersama demi kemajuan daerah kita.

    Wass.Wr.Wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: