Anjal Dan Gepeng Terkesan Diabaikan

Loteng— Undang-undang  memang telah menjamin bahwa anak jalanan (anjal) dan gelandangan serta pengemis (Gepeng) di jamin dan ditanggung oleh Negara. Namun di Kabupaten Lombok Tengah nampaknya undang-undang tersebut tidak berlaku bahkan keberadaan para anak jalanan dan gelandangan termasuk para pengemis tersebut terkesan diabaikan.

Hal tersebut dibuktikan dengan dengan tidak dianggarkannya atau tidak dialokasikannya dana untuk kepentingan mereka dalam APBD II selama dua tahun terakhir ini. Parahnya lagi Pemkab Loteng sendiri dalam hal ini Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertrans) malah tidak mengetahui jumlah riil anjal dan gepeng yang ada di Loteng.

Kepala Disosnakertrans Loteng, L. Agus Ansori melalui Kabid Bina Sosial, Rusli kepada wartawan mengakui bahwa dua tahun terakhir tidak ada dana bantuan untuk anjal dan gepeng. Dikatakan penanganan anjal dan gepeng di Loteng biasanya dilakukan secara bersama-sama dengan Lembaga Sosial Kemasyarakatan melalui pembuatan rumah singgah. Dimana saat ini di Loteng baru ada dua rumah singgah, satu dikelola oleh Yayasan Ta’Limusinbain dan satunya lagi dikelola oleh Yayasan Arrusnan jelas Rusli.

Diakuinya pihaknya telah berkali-kali mengusulkan bantuan dana untuk anjal dan gepeng ke DPRD agar dialokasikan pada APBD akan tetapi berkali-kali juga usulan tersebut dicoret. “untuk 2 tahun terakhir ini kami memang tidak mempunyai data riil akan tetapi kalau berdasarkan data tahun 2006, jumlah anjal dan gepeng di Loteng sekitas seratus orang lebih” ungkap Rusli.

Sementara itu terkait selalu dicoretnya usulan bantuan dana bagi para anjal dan gepeng tersebut oleh pihak DPRD, H. Karim Abdurrahim Wakil Ketua DPRD Loteng menjelaskan bahwa tidak relevan kalau dana bantuan bagi anjal dan gepeng diprioritaskan, pasalnya jumlah anjal dan gepeng di loteng sangat sedikit. “berapa sih jumlah anjal dan gepeng di Loteg? Paling hanya segelintir orang saja, dan juga Dissosnakertrans sebagai dinas yang berkompeten saja tidak memiliki data riil” jelas Karim Abdurrahim.[Le]

3 Tanggapan

  1. Anjal dan Gepeng (kaum dhuafa) adalah sekelompok orang yang sangat memerlukan bantuan segera. Seharusnya pemerintah daerah lebih memperhatikan golongan ini. Jangan mengatasi masalah ketika jumlah masalah sudah besar…..nanti tidak mampu…..baru malu. Ketiadaan data riil seharusnya justru membuat pemerintah daerah perlu segera mencari tahu keberadaan mereka, bukan malah mengabaikannya.

  2. “berapa sih jumlah anjal dan gepeng di Loteng? Paling hanya segelintir orang saja, dan juga Dissosnakertrans sebagai dinas yang berkompeten saja tidak memiliki data riil” jelas Karim Abdurrahim.”

    Hahahahaahahaha… makanya jangan jadi kaum minoritas, saya menghimbau kepada segenap gepeng dan anjaL di Loteng agar mencari teman lagi sebanyak2nya. Kalau udah mencapai ribuan nanti punya anggaran di DPRD hahahahahaha…

    Buat Mr. Karim Abdurrahim, berdoalah agar suatu saat nanti keturunan anda tidak ada yang jadi gepeng atau anjal. Yah… hiohohoho.. Jadi anggota dewan kok nggak punya hati, malah goblok lagi hehehehe!!

  3. Saya pikir ini cukup dilematis. membuat alokasi anggaran untuk sesuatu yang belum jelas juga beresiko untuk terjadinya penyimpangan penggunaan anggaran.

    Jika dinas sosial saja belum memiliki data sama sekali, bagaimana kita bisa merumuskan program, apa yang akan dilakukan, dalam jangka waktu berapa lama, apa dan berapa sumberdaya yang dibutuhkan? Dengan ketidakjelasan semacam itu, mana mungkin kita merumuskan alokasi anggaran yang memadai dari segi prioritas dan jumlah. Toh kalau dipaksakan malah nanti akan membuka peluang untuk terjadinya penggunaan yang tidak sesuai. Dana dipaksakann habis di akhir tahun anggaran dengan mengadakan program yang mengada-ada. Ini jelas tidak sesuai dengan semangat effisiensi dalam pengelolaan anggaran daerah.

    Kalau memang pemerintah benar-benar berminat menyusun anggaran daerah yang prorakyat miskin, prioritaskan alokasi anggaran pada program-program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesehatan dan kualitas pendidikan warga LoTeng. Bukankah akar dari munculnya Gepeng dan Anjal adalah kemiskinan, kebodohan dan berbagai bentuk keterpinggiran lainnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: